Noor Din Mohd. Top lolos dari sergapan polisi? Brigjen Anton Bachrul Alam, juru bicara Mabes Polri, buru-buru mendudukkan soal. Menurut dia, Noor Din bukan lolos, tapi memang tidak di tempat sejak sebulan sebelumnya. Dalam penggerebekan di Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu subuh 29 April lalu, buronan teroris kelas kakap itu sudah tidak ada di tempat.Noor Din, arsitek bom Marriott, Kuningan, dan Bali II itu diduga tengah mengembangkan rekrutmen kader ke tempat lain. Sedangkan pematangan rencana teror di kontrakan di Dusun Binangun, Jalan Raya Kretek-Wonosobo Km 4, itu dipercayakan pada Jabir, 24 tahun, dan Abdul Hadi, 31 tahun. Mustafirin, yang ditangkap polisi, disebut-sebut sebagai kader yang disiapkan untuk bom bunuh diri.Berarti, minimal sudah tiga kali Noor Din, 36 tahun, selamat dari sergapan Densus 88 gara-gara tak di tempat target. Waktu serangan di Batu, Malang, 10 November 2005, yang menewaskan Azahari dan Arman, Noor Din justru di Semarang bersama jaringan Abu Mujahid. Padahal, serangan di Batu itu berhasil membongkar aktor-aktor kunci bom Bali II, 1 Oktober 2005. Namun minus Noor Din.Begitu pula setahun sebelumnya, ketika penangkapan para pelaku kunci bom Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta, 9 September 2004. Empat pelaku utama bom Kuningan --Rois, Hasan, Apuy, dan Sogir-- ditangkap di Bogor pada 5 November 2004. Noor Din lagi-lagi tak di tempat. Padahal, saat tahap penyiapan serangan bom Kuningan, Noor Din kerap bersama-sama Rois dan tim.Tatkala penyergapan kelompok Rois di Bogor, Noor Din, Azahari, dan Jabir justru berada di antara Pekalongan dan Solo. Ia sedang menjajaki kerja sama dengan simpul Abdullah Sunata (eks jihad Ambon) untuk rencana pengeboman berikutnya. Seolah tak ada jeda istirahat. Sunata kemudian menolak ajakan Noor Din pada pertemuan kedua di Solo, Desember 2004. Fakta ini terungkap dalam persidangan Ahmad Rafiq Ridho dan Sunata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.Lalu, ketika simpul Sunata di Jakarta dan Solo ditangkapi polisi pada Juni 2005, Noor Din juga aman. Entah ia tengah di mana. Yang jelas, dua bulan kemudian, Agustus 2005, trio calon bomber Bali II (Salik Firdaus, Misno, dan Aip Hidayat) sedang digodok. Itu ditandai dengan menghilangnya Salik dan Misno dari kediaman di Majalengka, sebagaimana diterangkan keluarga mereka.Menurut polisi, rekrutmen Salik Firdaus dilakukan Jabir, senior Salik di Pesantren Darus Syahadah, Boyolali, Jawa Tengah. Abdul Hadi juga berperan dalam rekrutmen. Lulusan Pesantren Ngruki ini pernah mengajar di Darus Syahadah. Maka, ikatan ''ustad-senior-murid'' antara Hadi-Jabir-Salik memiliki dampak khusus dalam proses rekrutmen bomber Bali II.Keterlibatan Abdul Hadi ini bermula dari seringnya ia bertemu Noor Din di rumah Imam Buchori di Pekalongan. Karena Noor Din pernah menginap sepekan di sana. Sementara Hadi kala itu bekerja pada percetakan milik Buchori. Ketika Abdullah Sunata tidak bisa diharapkan kerja samanya, Noor Din memilih menghidupkan jaringan Hadi. Diperkuat Jabir, mereka mencari kader junior sepesantren. Ketemulah Salik Firdaus. Salik lalu menggaet Misno dan Aip Hidayat.Duet Abdul Hadi dan Jabir terkonfirmasi dalam serangan Wonosobo, Sabtu dua pekan lalu. Keduanya ditemukan tewas. Sebuah bom menempel di tubuh Jabir alias Gempur Budi Angkoro. Satu bom lagi ditemukan di Temanggung dalam wadah plastik berukuran 30 x 30 cm. Menurut Anton Bachrul Alam, dua bom itu hasil rakitan Jabir, yang juga terlibat dalam pengeboman Marriott dan Kuningan.Temuan bahan peledak itu menandakan, jaringan Noor Din tengah menyiapkan agenda teror lain. Namun, dengan tewasnya Jabir dan Hadi, meski Noor Din belum teringkus, bagi polisi, kekuatan Noor Din makin lemah. Kapolri Jenderal Sutanto menggambarkan Jabir dan Hadi lebih berbahaya daripada Noor Din. Sebab keduanya punya kemampuan merakit bom dan merekrut kader, sementara Noor Din hanya mampu merekrut, bukan merakit.Dalam rekrutmen pun, Noor Din sangat bergantung pada ''perantara''. Tidak mengolah dari bahan mentah langsung matang. Misalnya ketika menggandeng trio bomber Bali II, Noor Din dibantu Jabir dan Hadi. Saat merangkul Heri Golun untuk pengeboman Kuningan, ia dibantu total oleh Rois. Baru setelah Golun siap mental dan fisik, Noor Din memberi sentuhan akhir. Begitu juga ketika melibatkan Asmar Latin Sani dalam bom Marriott, Noor Din dibantu Muhammad Rais, teman Asmar di Ngruki, asal Malaysia. Asmar sendiri sudah kuat mental sejak lulus dari Ngruki.Efektivitas pelarian Noor Din pun amat bergantung pada bantuan orang sekitar. Persidangan Ahmad Rafiq Ridho di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (Januari-April 2006) menggambarkan betapa petualangan Noor Din usai mengebom Kuningan sangat tergantung panduan Rafiq Ridho. Adik kandung Fathurrohman Al-Ghozi ini menemani, memboncengkan, dan mencarikan persembunyian untuk Noor Din sejak dari Solo ke Pekalongan, Semarang, Solo lagi, Semarang lagi, lalu ke Mojokerto, pada rentang waktu Oktober 2004-Maret 2005.Ketergantungan yang sama tergambar dalam persidangan saat Noor Din lari sampai ke Blitar usai mengebom Marriott. Akibatnya, sekian banyak nama harus meringkuk di penjara gara-gara membantu persembunyian Noor Din dan Azahari (sebelum tewas). Pelarian terbarunya pasca-kematian Azahari juga melibatkan sejumlah orang.Sebagian orang membantu Noor Din karena semula tak tahu bahwa dia buronan polisi. Maklum, pria asal Johor, Malaysia, ini kerap memakai nama samaran. Purnama Putra, 24 tahun, yang 12 kali bertemu Noor Din, baru belakangan tahu bahwa itu Noor Din. ''Wajahnya beda dengan foto yang diedarkan polisi,'' katanya dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Januari lalu.Masih kata Purnama, ''Pertama kali ia memperkenalkan sebagai Zeid, lalu Aiman.'' Ketika menginap seminggu di Pacet, Mojokerto, Januari 2005, Noor Din memakai nama samaran Aban. Ini salah satu kunci kelicinan Noor Din.Saat ini, makin banyak kaki tangan Noor Din yang tertangkap. ''Makanya, Noor Din sekarang terpojok. Tunggu saja saatnya, nanti juga tertangkap,'' kata Anton Bachrul Alam. Hari-hari ini, menurut Anton, Noor Din dilayani jaringan lama. Namun terus berusaha merekrut kader baru. Dalam posisi terpojok, tempat persembunyiannya dipersiapkan dalam tempo singkat.Polisi kini berusaha mengurung dan mempersempit ruang gerak Noor Din agar hanya berputar-putar di Jawa Tengah. Sehingga, kata Anton, misi utama jaringan Noor Din saat ini lebih banyak tiarap mencari selamat dari kejaran aparat.Asrori S. Karni, Deni Muliya Baru, dan Puguh Windrawan (Wonosobo)
Sumber: Gatra