Penutupan Layanan CBN Cable Internet (Wed, Jun 4 2014)
  NEWS | TECH |TRAVEL |SHOPPING |ENTERTAINMENT |HEALTH |MAN |WOMAN| MAP |  
 
Hot Topic | Sign In | Registration | Entrepreneurs | Love Your Work | Professions | Career Tips
 
   
Entrepreneurs  
 




Bisnis Indonesia

Makin Garing dengan Waralaba
Entrepreneurs Tue, 20 Nov 2007 14:31:00 WIB

Ide memulai wirausaha datangnya bisa dari mana saja. Hobi memasak, bahkan makan pun bisa menjadi inspirasi untuk memulai usaha. Bermula dari hobi memasak ini pula yang menjadi dasar Gatot Sutoto untuk memulai usaha.

Pria bertubuh tinggi besar ini mengaku senang memasak. Bahkan, saat bertugas di Jepang, dia sempat mengambil kursus memasak. Kegiatan memasak pun menjadi hobi yang menyenangkan.

Selain itu, sebagai karyawan yang telah menduduki beragam posisi mapan di perusahaan lokal dan asing, dia kerap melakukan perjalanan ke luar negeri untuk tugas kantor.

Perjalanan dinas ini membuat wawasan kulinernya semakin bertambah. Pengalamannya mencicipi kuliner di berbagai tempat sekaligus suka memasak ini semakin membulatkan tekadnya untuk membuka usaha sendiri.

Lagipula saat memasuki usia 45 tahun, Gatot merasakan saatnya tiba untuk menjadi orang mandiri atau tidak menjadi karyawan lagi. Pada 1998, saat situasi ekonomi di Tanah Air sedang sulit, dia justru memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai karyawan.

Kesenangannya memasak pun menjadi modal untuk berwirausaha di bidang makanan.

"Mengembangkan talenta itu penting agar tak gelisah saat memasuki usia pensiun. Kalau senang, niat dan ada kesungguhan pasti bisa," kata Gatot mengenai keyakinannya berani berwirausaha, di sela-sela kesibukan bertugas di ekspo waralaba, baru-baru ini.

Tekadnya untuk memulai bisnis ini mendapatkan dukungan dari keluarga. Upaya mengubah mental dari orang gajian menjadi wirausaha yang harus menciptakan penghasilan sendiri memang membutuhkan keberanian. Gatot juga mengalami masa-masa sulit pernah gagal berbisnis sebagaimana dialami wirausahawan lain.

"Selama satu tahun, saya mengalami situasi yang tidak nyaman," paparnya.

Beruntung, istrinya seorang karyawan dengan penghasilan tetap yang bisa membantu mencukupi biaya rumah tangganya saat Gatot sedang konsentrasi merintis usahanya.

Uang pesangon dan tabungan selama menjadi karyawan juga menjadi pendukung bagi langkahnya untuk berwirausaha. Ayah tiga anak ini pun mulai berdagang makanan, seperti ayam goreng ala 'kentucky', steak, bakso, roti piza, crepes dan lainnya.

Makanan camilan hasil olahannya itu dijajakan dengan dua gerobak di pinggir jalan kawasan Bintaro, Tangerang, disajikan dengan garing (crispy), sehingga gerainya diberi merek Red Crispy.

Dia yang memiliki latar belakang pendidikan teknik mesin ini bereksperimen meramu sendiri menu dagangannya yang kini sudah ada enam jenis. Modal awal membuka bisnis itu sebesar Rp20 juta.

Tawarkan waralaba

Dalam tempo enam bulan, gerobaknya sudah bertambah menjadi enam buah. Kini, usaha makanannya yang sudah dikembangkan dalam sistem bisnis waralaba ini telah memiliki lebih dari 200 gerai di berbagai kota di Indonesia.

Satu gerai waralaba bisa dimiliki orang lain dengan membayar fee minimum Rp25 juta. Sistem waralaba Red Crispy ini dijual dalam bentuk paket dengan fee yang berbeda-beda. Harga jual makanannya antara Rp6.000-Rp26.000,-.

Makanan buatan gerai ini sebagian besar menggunakan bahan baku lokal yang dijamin kehalalannya, sedangkan bumbu-bumbunya sebagian masih diimpor. Bahkan, menurut dia, makanan olahannya menggunakan teknik khusus yang tidak dimiliki oleh makanan sejenis dari tempat lain.

Dia mencontohkan ayam buatannya yang bisa bersih dari darah dan penyajiannya bisa renyah. Kualitas dan rasa makanan yang terjamin halal ini membuat konsumen makin nyaman mengonsumsinya.

Imbasnya, usaha Gatot tersebut makin berkembang, sehingga kini telah mempekerjakan 50 orang karyawan. Namun, dia menolak menjelaskan omzet usahanya.

ia hanya memberikan gambaran ada satu gerobak yang bisa menghasilkan Rp1 juta per hari atau lebih besar lagi, tergantung dari situasi dan kondisinya.

"Yang pasti, saya bisa memberikan gaji kepada 50 karyawan dan ada keuntungannya. Keuntungan sekarang terus saya pakai untuk ekspansi," ujarnya.

Keseriusannya dalam menjalankan usaha ini juga ditunjukkan dengan usahanya membuat pelatihan untuk karyawannya. Sumber daya manusia, diakuinya menjadi kendala utama dalam berbisnis.

Dia banyak menemui tenaga kerja yang tidak serius dan memiliki mentalitas gampang menyerah saat menghadapi kesulitan. Maka itu, dia berusaha melatih karyawan agar memiliki kualifikasi, seperti yang diinginkannya.

Belajar dari pengalaman Gatot dan wirausaha lainnya, hobi atau minat rupanya bisa menjadi sumber inspirasi sekaligus kekuatan untuk mengubah kehidupan dengan menjadi wirausahawan. (suli.murwani@bisnis.co.id)

Suli H. Murwani
Bisnis Indonesia

Sumber: Bisnis Indonesia




Other articles

Andi Debby Asapa
Meningkatkan Nilai Jual Petani

Tue, 13 Nov 2007 14:30:00 WIB
Bermodal Uang Kuliah
Tue, 06 Nov 2007 14:30:00 WIB
Jeli memanfaatkan ajang kegiatan
Tue, 06 Nov 2007 14:31:00 WIB

 

 
Area lensaindonesia.com Indosiar.com Bisnis Indonesia
 
 
0%

Tingkat pengangguran di negara Andorra


(amusingfacts.com)

 
Career Tips
 
Jurus Jitu Cepat Naik Jabatan
Tue, 06 Nov 2012 12:33:00 WIB